{"id":4700,"date":"2026-03-06T03:12:00","date_gmt":"2026-03-06T03:12:00","guid":{"rendered":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/?p=4700"},"modified":"2026-03-05T02:53:05","modified_gmt":"2026-03-05T02:53:05","slug":"produk-telekomunikasi-dari-luar-negeri","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/4700\/produk-telekomunikasi-dari-luar-negeri\/","title":{"rendered":"Bawa Produk Telekomunikasi dari Luar Negeri Wajib Sertifikasi DJID? Ini Jawabannya"},"content":{"rendered":"\n<p>Ketika berlibur ke luar negeri, salah satu barang yang diincar untuk dijadikan oleh-oleh adalah telepon genggam atau smartphone. Alasannya sederhana, harganya lebih murah.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi ketika masuk ke bandara atau pelabuhan, barang bawaan ini akan diperiksa petugas bea cukai. Banyak yang kecewa karena ternyata harus bayar pajak lagi. Belum lagi harus mendaftarkan IMEI secara legal.<\/p>\n\n\n\n<p>Kemudian, ada satu lagi yang dipertanyakan. Apakah produk telekomunikasi dari luar negeri seperti telepon genggam itu wajib dilakukan sertifikasi DJID?&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti kita ketahui, proses ini hukumnya wajib bagi seluruh penjual produk telekomunikasi di Indonesia. Tapi kalau bentuknya buah tangan, bagaimana? kami akan baha di sini.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Itu Produk Telekomunikasi?<\/h2>\n\n\n\n<p>Regulasi operasional sertifikasi DJID diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika (Permenkominfo) Nomor 3 Tahun 2024 tentang Sertifikat Alat Telekomunikasi dan\/atau Perangkat Telekomunikasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam pasal 1 ayat 1 regulasi tersebut menjelaskan:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Telekomunikasi adalah setiap pemancaran, pengiriman, dan\/atau penerimaan dari hasil informasi dalam bentuk tanda-tanda, isyarat, tulisan, gambar, suara, dan bunyi melalui sistem kawat, optik, radio, atau sistem elektromagnetik lainnya.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Sementara pada pasal 1 ayat 2 dan tiga dijelaskan, alat Telekomunikasi adalah setiap alat perlengkapan yang digunakan dalam bertelekomunikasi. Sementara perangkat Telekomunikasi adalah sekelompok Alat Telekomunikasi yang memungkinkan bertelekomunikasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Buat yang berkecimpung di bisnis penjualan produk telekomunikasi mungkin sudah paham luar dalam tentang definisi ini. Tapi buat orang awam, bisa jadi salah kaprah.<\/p>\n\n\n\n<p>Alat atau perangkat telekomunikasi bukan hanya telepon genggam, tablet dan sejenisnya. Namun semua alat atau perangkat yang menggunakan sistem elektromagnetik untuk berkomunikasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada intinya,sistem&nbsp; elektromagnetik adalah sistem hasil interaksi muatan listrik, medan listrik dan medan magnet. Interaksi tersebut menghasilkan sebuah media untuk pengiriman data komunikasi, baik berupa gambar, suara, atau tulisan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa itu Sertifikasi DJID?<\/h2>\n\n\n\n<p>Sertifikasi DJID adalah serangkaian proses untuk memastikan produk-produk telekomunikasi aman digunakan dan tidak mengganggu produk lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, barang berupa produk telekomunikasi jika dibawa masuk dan digunakan di Indonesia, pada dasarnya wajib memenuhi tujuan sertifikasi DJID tersebut.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam regulasi, nama resmi sertifikasi DJID adalah Sertifikat Alat Telekomunikasi dan\/atau Perangkat Telekomunikasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Prosesnya cukup panjang melibatkan pengujian produk dan penilaian. Selain itu, ada banyak dokumen yang dibutuhkan untuk kelengkapan syarat permohonan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Produk Telekomunikasi dari Luar Negeri Wajib Sertifikasi DJID?<\/h2>\n\n\n\n<p>Dijelaskan dalam Permenkominfo Nomor 3 Tahun 2024, barang bawaan atau oleh-oleh berupa produk telekomunikasi yang dibawa dari luar negeri <strong>tidak wajib<\/strong> melakukan sertifikasi DJID.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini tertuang di Pasal 20 ayat 1 huruf a:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Ketentuan pembuktian dengan Sertifikat (DJID) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) dikecualikan untuk Alat Telekomunikasi dan\/atau Perangkat Telekomunikasi yang memenuhi ketentuan sebagai berikut: (a) merupakan barang bawaan dan\/atau barang yang dikirim melalui penyelenggara pos, yang digunakan untuk keperluan sendiri, tidak diperdagangkan, dan\/atau tidak untuk tujuan komersial berupa Alat Telekomunikasi dan\/atau Perangkat Telekomunikasi di sisi pelanggan (customer premises equipment), dengan jumlah paling banyak 2 (dua) unit, dengan merek dan Tipe Alat Telekomunikasi dan\/atau Perangkat Telekomunikasi yang sama maupun berbeda;<\/em><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Syarat dan Ketentuan<\/h2>\n\n\n\n<p>Meski Produk Telekomunikasi dari Luar Negeri yang dibawa sebagai oleh-oleh tidak wajib melakukan pengajuan permohonan sertifikasi DJID, ada syarat dan ketentuan yang berlaku.<\/p>\n\n\n\n<p>Hal ini sebetulnya sudah tertera dari bunyi pasal di atas. Namun, kami akan menjelaskannya lebih lanjut per poinnya supaya lebih jelas:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Digunakan Keperluan Sendiri<\/h3>\n\n\n\n<p>Produk tersebut hanya untuk penggunaan sendiri. Artinya, penumpang yang membawa produk telekomunikasi tidak boleh memperjual belikannya saat sudah beroperasi di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena jika diperdagangkan, maka berdampak produk telekomunikasi tersebut dinyatakan tidak punya sertifikat DJID.<\/p>\n\n\n\n<p>Produk telekomunikasi <a href=\"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/4697\/sanksi-tidak-punya-sertifikat-djid\">tidak punya sertifikat DJID<\/a> terancam berurusan dengan hukum. Anda bisa dikenakan sanksi dan denda dalam jumlah besar.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Hanya Boleh Dibawa <em>End User<\/em><\/h3>\n\n\n\n<p>Produk telekomunikasi dari luar negeri tersebut hanya boleh dibawa oleh pengguna atau <em>end user<\/em>. Bukan badan hukum seperti importir atau distributor.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena jika dibawa oleh distributor atau importir, sudah pasti orientasinya adalah bisnis (untuk mendapatkan keuntungan). Dan kembali lagi ke syarat pertama, ini dilarang.<\/p>\n\n\n\n<p>Perlu diketahui juga, pihak yang boleh mengajukan diri sebagai pemohon sertifikasi DJID hanya badan hukum, bukan perorangan. Baik itu produsen atau perwakilan produsen luar negeri seperti importir atau distributor.<\/p>\n\n\n\n<p>Ini selaras dengan aturan yang kita bahas. Karena otomatis, <em>end user<\/em> tidak akan bisa menjadi pihak yang mengajukan permohonan sertifikasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Perlu digaris bawahi, <em>end user<\/em> adalah masyarakat Indonesia. Mereka berhak memberikan laporan jika terdapat kejanggalan pada produk telekomunikasi yang digunakan. Tujuannya untuk melindungi diri dari bahaya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Apakah fitur telekomunikasinya rusak? mengganggu produk lain? membuat pusing, pegal dan sebagainya padahal hanya dipakai sebentar? ini bisa jadi indikasi produk tersebut tidak sesuai standar teknis.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Jumlah Maksimal 2 Unit<\/h3>\n\n\n\n<p>Ini yang perlu jadi pertimbangan banyak orang. Karena produk telekomunikasi dari luar negeri yang dibawa ke Indonesia maksimal berjumlah 2 unit.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika di bandara atau pelabuhan, petugas bea cukai akan memeriksa barang bawaan penumpang dari luar negeri. Jika kedapatan membawa produk telekomunikasi lebih dari 2 unit, sudah pasti akan disita.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Bukan Barang Berbahaya<\/h3>\n\n\n\n<p>Ketentuan tambahan ada di Pasal 20 ayat 1 Permenkominfo Nomor 3 Tahun 2024. Disitu dijelaskan, produk telekomunikasi dari luar negeri yang dibawa penumpang pesawat\/kapal tidak boleh menimbulkan gangguan.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk membuktikannya memang butuh pengujian di balai uji. Namun biasanya, produsen mencantumkan di buku manual atau kemasan tentang rentang operasi radio frekuensi produk dengan teknologi telekomunikasi. Ini yang akan diperiksa oleh petugas di kawasan kepabeanan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Daftar Produk Telekomunikasi Tidak Wajib Memiliki Sertifikat<\/h2>\n\n\n\n<p>Tak hanya barang bawaan atau oleh-oleh, ada beberapa jenis produk telekomunikasi dari luar negeri yang tidak wajib melakukan sertifikasi DJID. Hal ini seperti tertuang dalam Permen Kominfo Nomor 3 Tahun 2024 Pasal 20 ayat 1. Berikut rinciannya:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Untuk Keperluan Strategis<\/h3>\n\n\n\n<p>Dijelaskan dalam ayat 1 huruf b, yang kami maksud strategis adalah produk telekomunikasi dari luar negeri yang digunakan untuk keperluan penelitian dan pengembangan, keperluan penanganan bencana alam, keperluan uji coba teknologi Telekomunikasi, informatika, dan penyiaran, keperluan kegiatan kenegaraan, dan\/atau keperluan peristiwa tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, syaratnya produk tersebut harus mengantongi ISR (Izin Stasiun Radio), tidak diperdagangkan dan maksimal digunakan selama 1 tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam ayat 9 dijelaskan, setelah masa penggunaan berakhir, produk tersebut harus diekspor keluar negeri. Bukti realisasi ekspor perlu dilaporkan setelah melakukannya (ayat 10).<\/p>\n\n\n\n<p>Jika tidak bisa diekspor, produk akan dimusnahkan DJID. Selain itu, produk juga bisa diajukan permohonan sertifikasi DJID kalau mau terus digunakan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Sampel Uji<\/h3>\n\n\n\n<p>Dalam proses sertifikasi DJID, pemohon diminta mengirimkan sampel uji jika menggunakan jalur local testing atau pengujian lokal. Singkatnya, produk tersebut diuji di balai uji dalam negeri. Dan kalau lewat bandara atau pelabuhan, otomatis pouk tersebut berasal dari luar negeri.<\/p>\n\n\n\n<p>Dimulti Indonesia yang menyediakan jasa sertifikasi DJID sejak tahun 2008 juga sering mendapatkan pertanyaan apakah sampel juga wajib disertifikasi terlebih dahulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Jawabannya tentu tidak. Karena jika sampel wajib sertifikasi, untuk mendapatkan sertifikatnya juga wajib mengirimkan sampel untuk pengujian. Sampel dari sampel itu lalu wajib lagi disertifikasi\u2026.. dan seterusnya. Kapan selesainya?<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam ayat 4 dijelaskan, produk telekomunikasi dari luar negeri berupa sampel uji membutuhkan surat keterangan dari DJID.<\/p>\n\n\n\n<p>Untuk mendapatkan keterangan, pemohon wajib melampirkan spesifikasi dari produk telekomunikasi tersebut. Selain itu, juga melampirkan surat kebutuhan sampel uji dari balai uji dalam negeri (ayat 6 huruf a).<\/p>\n\n\n\n<p>Perlu diingat, pengujian pada sampel ini harus dilakukan maksimal 6 bulan setelah surat keterangan terbit.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam ayat 9 dijelaskan, jika dalam jangka waktu tersebut belum juga dilakukan pengujian, maka produk harus diekspor keluar negeri (bukti realisasi ekspor perlu dilaporkan) atau dimusnahkan oleh DJID.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Keperluan Pertahanan Negara<\/h3>\n\n\n\n<p>Dalam ayat 1 huruf d dijelaskan, produk telekomunikasi dari luar negeri yang tidak wajib sertifikasi DJID digunakan untuk keperluan pertahanan dan keamanan oleh kementerian\/lembaga yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pertahanan negara atau keamanan negara, yang memiliki spesifikasi khusus serta tidak diperdagangkan untuk umum.<\/p>\n\n\n\n<p>Sama seperti sampel uji, produk telekomunikasi ini juga butuh surat keterangan, tapi namanya surat rekomendasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Surat tersebut berasal dari Kementerian Pertahanan atau kementerian yang menyelenggarakan urusan pertahanan negara (ayat 6 huruf b).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Keperluan Perwakilan Diplomatik Negara Lain dan Badan\/Organisasi Dunia di Bawah PBB<\/h3>\n\n\n\n<p>Ketentuan penggunaan produk telekomunikasi dari luar negeri yang tidak wajib disertifikasi DJID ini dijelaskan dalam ayat 1 huruf e (diplomat) dan f (organisasi di bawah PBB).<\/p>\n\n\n\n<p>Masih sama seperti sebelumnya, penggunaannya juga membutuhkan surat rekomendasi. Untuk diplomat luar negeri, dari Kementerian Luar Negeri. Sementara untuk organisasi di bawah PBB, dari perwakilan organisasi tersebut yang ada di Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">5. Alat Ukur Produk Telekomunikasi<\/h3>\n\n\n\n<p>Produk yang digunakan untuk melakukan pengujian produk telekomunikasi juga tidak wajib disertifikasi DJID. Hal ini tertera di ayat 1 huruf g:<\/p>\n\n\n\n<p><em>Digunakan sebagai sarana untuk mengukur Alat Telekomunikasi dan\/atau Perangkat Telekomunikasi.<\/em><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">6. Ketetapan Menteri<\/h3>\n\n\n\n<p>Terakhir, dalam ayat 1 huruf h dijelaskan, produk telekomunikasi tidak perlu dilakukan sertifikasi DJID sesuai dengan keputusan menteri, dalam hal ini Menteri Komunikasi dan Digital.<\/p>\n\n\n\n<p>Wewenang ini sepenuhnya ada di tangan menteri. Jadi, tidak ada daftar produk dalam kategori tersebut. Namun biasanya yang berhubungan dengan ketahanan dan keamanan negara.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p>Kesimpulannya, produk telekomunikasi dari luar negeri yang dibawa sebagai buah tangan atau oleh-oleh itu tidak wajib dilakukan sertifikasi DJID. Dengan catatan, maksimal 2 unit dan tidak boleh diperjualbelikan serta bukan produk berbahaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski begitu, ada kewajiban lainnya yang perlu anda lakukan seperti membayar bea masuk (pajak) dan pengaktifan IMEI pada perangkat seluler.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah produk telekomunikasi dari luar negeri untuk oleh-oleh wajib dilakukan sertifikasi DJID?\u00a0Ini penjelasannya.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4701,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6,95,102,11,39],"class_list":["post-4700","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sertifikasi","tag-djid","tag-luar-negeri","tag-oleh-oleh","tag-produk","tag-telekomunikasi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4700","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4700"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4700\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4702,"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4700\/revisions\/4702"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4701"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4700"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4700"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4700"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}