{"id":4751,"date":"2026-03-19T03:21:00","date_gmt":"2026-03-19T03:21:00","guid":{"rendered":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/?p=4751"},"modified":"2026-03-16T07:33:23","modified_gmt":"2026-03-16T07:33:23","slug":"apa-itu-rfid","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/4751\/apa-itu-rfid\/","title":{"rendered":"Apa Itu RFID? Penjelasan dan Kewajiban Punya Sertifikat DJID"},"content":{"rendered":"\n<p>Apa itu RFID? bagaimana aturannya dalam sertifikasi DJID? Pertanyaan ini mungkin muncul dari pelaku usaha yang baru pertama kali mengajukan permohonan sertifikasi DJID.<\/p>\n\n\n\n<p>Terlihat sepele. Tapi, pengetahuan tentang RFID apalagi sampai hubungannya ke proses sertifikasi DJID, kan, hanya diketahui oleh orang yang paham. Jadi, jangan sisnis dulu kalau masih ada yang bertanya apa itu RFID.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, disini kami akan menjelaskan hal-hal umum sekaligus memberikan panduan standar teknis jika anda mau melakukan sertifikasi produk RFID.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Itu RFID?<\/h2>\n\n\n\n<p>RFID adalah kependekan dari Radio Frequency Identification. Ini adalah teknologi pemanfaatan gelombang radio (salah satu gelombang elektromagnetik) menggunakan mekanisme identifikasi objek tanpa kontak fisik.<\/p>\n\n\n\n<p>Tujuan pembuatannya ada banyak. Bisa untuk akses, pendataan, pengenalan objek, dan lain sebagainya. Yang jelas, teknologi ini dibuat untuk memudahkan urusan manusia karena cepat dan tanpa menyentuh.&nbsp;&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Komponen dan Cara Kerja RFID<\/h2>\n\n\n\n<p>Untuk bisa mengaktifkan teknologi RFID, perlu dua komponen berikut ini. Di poin ini, kami akan sekaligus menjelaskan cara kerja RFID.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Tag<\/h3>\n\n\n\n<p>Tag adalah objek yang diidentifikasi oleh reader. Tag RFID bisa pasif (tanpa baterai) dan aktif (dengan baterai).<\/p>\n\n\n\n<p>Tag RFID bisa dibuat dengan mode read only, artinya dia permanen. Objek yang dibaca di dalamnya tidak bisa ditambah atau dikurangi.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebaliknya, ada juga objek dalam tag RFID yang bisa ditambahkan, dikurangi, dimodifikasi dan sebagainya. Tag RFID ini biasa dikenal dengan Tag Read-Write.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Reader<\/h3>\n\n\n\n<p>Reader adalah alat yang membaca objek dalam tag. Jadi ketika tag memancarkan sinyal, Reader akan membacanya dan memberikan data atau informasi yang dibutuhkan untuk melakukan suatu <em>action<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Misalnya untuk membuka pintu. Tag yang tertanam dalam kartu akses akan memancarkan sinyal. Reader yang ada di gagang pintu bereaksi dan mengirimkan data agar sistem mekanis gagang pintu tersebut bisa terbuka.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pengelompokkan Pita Frekuensi RFID<\/h2>\n\n\n\n<p>Teknologi RFID dikelompokkan menjadi beberapa kategori berdasarkan pita frekuensi yang dipakai. Berikut penjelasannya:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. LF<\/h3>\n\n\n\n<p>LF atau Low Frequency adalah pita frekuensi paling rendah. Rentangnya 30 kHz hingga 300 kHz. Namun, kebanyakan produk dengan teknologi RFID LF ini beroperasi di 125 kHz atau 134 kHz.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena sangat kecil, sudah jelas jika kelompok pta frekuensi RF ini jangkauannya sangat pendek, hanya sekitar 10 cm. Selain itu, kecepatan bacanya juga lambat. Lebih cocok untuk fitur yang masih sederhana.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. HF<\/h3>\n\n\n\n<p>HF adalah kependekan dari High Frequency. Pita frekuensi RFID HF berkisar dari 3 hingga 30 MHz. Namun, sebagian besar sistem RFID HF bekerja dengan frekuensi 13,56 MHz, dengan jangkauan pembacaan antara 10 cm dan 1 m.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu produk RFID yang menggunakan pita frekuensi ini adalah NFC. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang <a href=\"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/4747\/apa-itu-nfc-sertifikasi-djid\/\">apa itu NFC<\/a> dan bagaimana aturannya dalam sertifikasi DJID, anda bisa membuka link yang kami sematkan.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. UHF<\/h3>\n\n\n\n<p>Ultra High Frequency atau UHF adalah pita frekuensi dengan rentang lebih tinggi dari HF. Kisarannya antara 300 MHz sampai 3 GHz. Namun, sebagian besar produk RFID UHF bekerja di rentang 860 hingga 960 MHz.<\/p>\n\n\n\n<p>Sistem ini bahkan bisa menjangkau hingga 12 meter, memiliki transmisi data yang sangat cepat, namun sangat sensitif terhadap interferensi (semakin besar frekuensi radio biasanya lebih rentan interferensi).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">4. Gelombang Mikro<\/h3>\n\n\n\n<p>Gelombang mikro bekerja di frekuensi 2,4 GHz. Sebenarnya, ini adalah frekuensi kerja paling umum dalam penerapan teknologi berbasis frekuensi radio. Saat pertama kali ditemukan, RFID juga menggunakan frekuensi ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, frekuensi ini, karena banyak pemanfaatan dan otomatis banyak penggunanya, lebih rentan terhadap interferensi.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kelebihan Penerapan Teknologi RFID<\/h2>\n\n\n\n<p>Teknologi RFID memberikan banyak manfaat dalam kehidupan. Apalagi dengan banyaknya rentang frekuensi radio yang bisa dipakai, akan ada lebih banyak teknologi yang bisa dibuat. Kami akan berikan beberapa contoh manfaat dan penerapan RFID dalam kehidupan sehari-hari berikut ini:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Meningkatkan Keamanan<\/h3>\n\n\n\n<p>Penerapan teknologi RFID yang paling banyak dipakai saat ini adalah untuk akses masuk. Hanya orang yang memiliki akses (tag) yang dapat masuk ke sebuah ruangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Artinya, orang yang tidak punya kartu (atau apapun bentuknya) akses, tidak akan bisa masuk. Hal ini meminimalisir orang yang tidak bertanggung jawab memaksakan masuk ke ruangan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Memang benar, berkembangnya teknologi membuat berkembang juga \u201cakal-akalan\u201d orang yang tidak bertanggung jawab berbuat kejahatan. Tapi setidaknya, tidak semudah melakukannya sebelum adanya teknologi ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Keimanan yang dimaksud juga dalam aspek penggunaan teknologinya. Karena RFID dirancang dengan daya rendah dan frekuensi kerjanya juga tergolong rendah, maka lebih aman dari <em>hacker, <\/em>atau bahasa elektroniknya adalah interferensi.<\/p>\n\n\n\n<p>Coba bayangkan. Kalau mau menerapkan teknologi nirkabel untuk membuka pintu (misalnya), kenapa tidak sekalian menggunakan jaringan seluler pada telepon.<\/p>\n\n\n\n<p>Misalnya, gunakan nomor seperti kita melakukan panggilan telepon ke gagang pintu. Saat nomor dihubungi, pintu bisa terbuka.<\/p>\n\n\n\n<p>Atau contoh lainnya, gunakan aplikasi seluler untuk membuka pintu. Cukup masukkan pin dalam aplikasi (tidak perlu didekatkan ke gagang pintu) untuk membukanya dan pintu terbuka.<\/p>\n\n\n\n<p>Alasan keamanan tadilah penyebabnya. Panggilan telepon atau penggunaan internet bisa dengan mudah diretas. Jika tiba-tiba pintu terbuka padahal kita tidak mengaktifkannya, tamatkah barang-barang di dalam rumah kita.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Optimalisasi Manajemen Barang dan Aset<\/h3>\n\n\n\n<p>Sebuah toko menyimpan 1000 barang di gudang dengan 250 jenis barang yang berbeda. Semua harus masuk dalam sistem supaya bisa dihitung mana yang sudah laku dan belum. Dan tentu ini berkaitan dengan keuntungan.<\/p>\n\n\n\n<p>Adanya teknologi RFID membuat semua barang hanya butuh barcode dan sejenisnya dan bisa di scan melalui reader RFID.<\/p>\n\n\n\n<p>Petugas gudang tak butuh lagi membongkar 1000 barang tersbebut dan mensortirnya stau per satu untuk mengetahui data-data yang dibutuhkan tadi.<\/p>\n\n\n\n<p>Memang ini sistem umum yang diterapkan saat ini. Tapi bisa dibayangkan, bagaimana sistem dalam industri sebelum ditemukan teknologi RFID.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Hemat Waktu<\/h3>\n\n\n\n<p>Saat ini rasa-rasanya apapun teknologi yang dikembangkan tujuannya untuk menghemat waktu dalam kehidupan manusia. Ini juga yang terjadi di RFID.<\/p>\n\n\n\n<p>RFID bisa digunakan berbagai kebutuhan yang dahulu rumit. Contoh sederhana, penerapan NFC sebagai akses pengganti kunci fisik.<\/p>\n\n\n\n<p>Penggunaan NFC hanya butuh 1 detik untuk membuka pintu atau gerbang. Sementara kunci fisik, bisa beberapa detik lebih lama.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin hanya beda \u201cbeberapa detik\u201d. Tapi bayangkan, jika dalam satu waktu ada 100 orang yang mau masuk pintu tersebut (dan semuanya wajib membuka kunci demi keamanan), butuh berapa lama waktu yang dibutuhkan jika pakai kunci manual.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kewajiban Sertifikasi DJID Produk RFID<\/h2>\n\n\n\n<p>Karena menggunakan frekuensi radio, otomatis produk dengan teknologi RFID wajib memiliki sertifikat DJID. Artinya, pihak yang mau memasarkan produk tersebut di Indonesia, wajib mengajukan permohonan sertifikasi DJID.<\/p>\n\n\n\n<p>Radio frekuensi sendiri merupakan salah satu gelombang elektromagnetik yang pemanfaatannya diatur di Negara Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p>Mengapa harus diatur? karena gelombang elektromagnetik punya potensi membahayakan manusia jika terpapar berlebih. Artinya, pemerintah Indonesia ingin melindungi warga negaranya dari bahaya tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemanfaatan radio frekuensi sebagai salah satu gelombang elektromagnetik juga berpotensi mengganggu perangkat atau produk lain. Jadi, tujuan sertifikasi DJID juga untuk mencegah hal tersebut.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Standar Teknis yang Menjadi Acuan<\/h3>\n\n\n\n<p>Perlu diketahui, teknologi RFID termasuk perangkat Short Range Device atau perangkat yang memiliki daya pancar rendah.<\/p>\n\n\n\n<p>Perangkat Short Range Device sendiri dirancang dengan jangkauan terbatas. Salah satu tujuannya untuk tidak menimbulkan gangguan berbahaya pada pengguna radio frekuensi lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, jika anda mau melakukan sertifikasi DJID untuk produk telekomunikasi dengan teknologi RFID, yang jadi acuan adalah standar teknis SRD.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara regulasi yang mengaturnya ada di Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kepmen Kominfo) Nomor 260 Tahun 2024 tentang Standar Teknis Short Range Devices.<\/p>\n\n\n\n<p>Daftar teknologi yang termasuk dalam SRD tertera dalam lampiran standar teknis ini. Dalam Lampiran BAB 1 tentang definisi disebutkan, Radio Frequency Identification yang selanjutnya disebut RFID adalah alat telekomunikasi dan\/atau perangkat telekomunikasi yang mampu mengidentifikasi berbagai objek dengan menggunakan gelombang radio secara simultan tanpa diperlukan kontak langsung atau dalam jarak pendek.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Komponen yang Disertifikasi<\/h3>\n\n\n\n<p>Kami suda jelaskan komponen RFID di atas. Yang jadi pertanyaan, mana part yang harus disertifikasi? apakah tag atau readernya? atau keduanya?<\/p>\n\n\n\n<p>Jawabannya adalah readernya. Karena reader inilah membaca sinyal dan mengirimkan datanya ke perangkat yang menandainya. Sementara tag, apalagi tag pasif, tugasnya cuma mengirimkan sinyal (seperti menyambungkan listrik pada alat elektronik dengan kabel).<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">3. Ketentuan Pengujian<\/h3>\n\n\n\n<p>Seluruh produk telekomunikasi yang menggunakan radio frekuensi wajib melakukan dua pengujian: Pengujian Radio Frekuensi dan EMC. Tambahan Pengujian Electrical Safety jika dibutuhkan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">a. Pengujian Electrical Safety<\/h4>\n\n\n\n<p>Pengujian Electrical Safety dilakukan untuk menilai tegangan berlebih\/ kuat listrik\/kuat dielektrik dan arus bocor\/arus sentuh. Penggunaannya harus memenuhi ketentuan keselamatan listrik yang ditetapkan dalam:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>SNI IEC 60950-1:2016<\/li>\n\n\n\n<li>SNI IEC 62368-1:2014<\/li>\n\n\n\n<li>SNI 04-6253<\/li>\n\n\n\n<li>IEC 62368-1<\/li>\n\n\n\n<li>IEC 60950-1<\/li>\n\n\n\n<li>IEC 60065<\/li>\n\n\n\n<li>Standar SNI atau IEC yang relevan, untuk SRD selain audio, video, serta teknologi informasi dan komunikasi (TIK)<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">b. Pengujian EMC<\/h4>\n\n\n\n<p>EMC adalah pengujian untuk melihat emisi gelombang elektromagnetik yang dikeluarkan produk telekomunikasi. Sementara pengujiannya harus memenuhi ketentuan emisi yang ditetapkan dalam:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>SNI IEC CISPR 32:2015<\/li>\n\n\n\n<li>IEC CISPR 32<\/li>\n\n\n\n<li>Salah satu seri ETSI EN 301 489.<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h4 class=\"wp-block-heading\">c. Pengujian RF<\/h4>\n\n\n\n<p>Pengujian RF ini yang membedakan metode, jenis dan hal-hal teknis lainnya antar satu teknologi dengan teknologi lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam regulasi dijelaskan, persyaratan pengujian RF untuk produk RFID dibedakan berdasarkan rentang frekuensi kerjanya. Agar lebih mudah, kami rangkum menjadi tabel berikut ini:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\"><strong>Pita Frekuensi<\/strong><\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\"><strong>Output power<\/strong><\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\"><strong>Spurious emission<\/strong><\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\"><strong>Metode Pengujian<\/strong><\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">16 \u2013 150 kHz<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">\u2264 66 dB\u00b5A\/m<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">EN 300 330<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">EN 300 330<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">6765 \u2013 6795 kHz<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">\u2264 42 dB\u00b5A\/m<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">EN 300 330<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">EN 300 330<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">7400 \u2013 8800 kHz<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">\u2264 9 dB\u00b5A\/m<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">EN 300 330<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">EN 300 330<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">13.553 \u2013 13.567 MHz<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">\u2264 94 dB\u00b5V\/m<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">EN 302 291,<br>EN 300 330<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">EN 302 291,<br>EN 300 330<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">433 \u2013 434.79 MHz<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">\u2264 20 dBm<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">EN 300 220<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">EN 300 220<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">920 \u2013 923 MHz<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">\u2264 26 dBm<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">EN 300 220,<br>EN 302 208<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">EN 300 220,<br>EN 302 208<\/td><\/tr><tr><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">2.4 \u2013 2.4835 GHz<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">\u2264 20 dBm<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">EN 300 440<\/td><td class=\"has-text-align-center\" data-align=\"center\">EN 300 440<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa itu RFID? bagaimana aturannya dalam sertifikasi DJID? Kami akan menjelaskannya sekaligus aturan kewajiban sertifikasi DJID.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4753,"comment_status":"open","ping_status":"","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[122,4,123,58],"class_list":["post-4751","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sertifikasi","tag-rfid","tag-sertifikasi","tag-srd","tag-teknologi"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4751","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4751"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4751\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4754,"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4751\/revisions\/4754"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4753"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4751"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4751"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/media.narmadi.com\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4751"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}