Masuk ke era musik modern, semakin banyak label yang menerbitkan ulang sebuah album dari musisi legend dengan embel-embel remaster.
Ketika didengarkan, lagu tersebut seperti sama saja namun dengan nuansa yang berbeda. Setelah mendengarkan, malah banyak yang menyebut lagu tersebut sudah diremix.
Lantas, apakah remix dan remaster itu sama? sebagai penyedia jasa pembuatan lagu profesional, tentu saja Dimulti Music perlu meluruskan hal ini. Karena itu, disini kami akan menjelaskan apa perbedaan remix vs remaster lagu.
Also Read
Definisi
Kita mulai dari definisi untuk mengetahui secara spesifik apa saja perbedaan remix vs remaster lagu yang kami maksud.
1. Remix
Seperti namanya, remix adalah proses “mencampurkan” nuansa lain dalam sebuah lagu. Yang dicampurkan bisa bermacam-macam.
Remix bisa mencakup perubahan seperti pola drum atau ritme baru, efek tambahan atau desain suara kreatif, progresi akord atau melodi yang berbeda, bagian-bagian yang dihilangkan atau dibangun kembali untuk alur baru atau bisa juga sebuah drop baru, groove baru, atau energi musik baru.
Karena proses pencampuran tersebut, biasanya lagu yang sudah diremix akan menghasilkan lagu baru yang benar-benar berbeda dari aslinya.
Itulah mengapa istilah remix paling banyak didengar di pertunjukkan Disk Jockey atau DJ. Dimana lagu yang diputar, lebih bersemangat, menghentak, dan jauh dari versi aslinya.
2. Remaster
Remaster adalah proses mastering ulang sebuah lagu. Mastering sendiri merupakan tahapan final dari pembuatan lagu atau produksi musik.
Mastering membuat sebuah lagu konsisten didengarkan di berbagai skenario pemutaran. Terkadang, banyak yang salah mengartikan bahwa proses mastering adalah yang menentukan kualitas lagu. Padahal, kualitas lagu sendiri sudah terlihat dari visi lagu tersebut.
Kembali ke soal remaster. Pada proses mastering, seorang engineer mastering memberikan sentuhan atau pemrosesan pada set mix lagu utuh, disebut stereo mastering.
Bisa juga dengan mengelompokkan mix setiap instrumen (vokal, gitar, dsb). Proses ini disebut stem mastering. (lebih lengkapnya tentang perbedaan stem mastering vs stereo mastering bisa dibaca di link yang kami tautkan)
Proses remaster bisa memanfaatkan file stereo mastering atau stem mastering, tergantung tujuan pembuatan versi lagu yang berbeda tersebut.
Disini, file stereo akhir akan dibersihkan, diseimbangkan, atau ditingkatkan.Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas suara tanpa mengubah pilihan artistik.
Secara teknis, proses remaster bisa mencakup peningkatan frekuensi, mengurangi noise, citra stereo yang lebih stabil, EQ yang lebih baik, dan teknis mastering lainnya.
Remix vs Remaster Lagu
Supaya lebih mudah dipahami, kami membuat tabel perbedaan Remix vs Remaster Lagu sehingga anda bisa melihatnya lebih spesifik.
| Kategori | Remix | Remaster |
| Perubahan General | Keseluruhan musik. Drum baru, akord baru, efek baru, atau bagian klimaks baru. Produser memperlakukan lagu asli sebagai bahan mentah untuk ide baru. Sebuah remix dapat mengubah lagu pop yang lembut menjadi versi klub atau mengubah balada yang lambat menjadi lagu dansa yang bersemangat. | Remastering mempertahankan musiknya persis sama. Penampilan, aransemen, dan strukturnya tidak berubah. Hanya kualitas suara yang ditingkatkan untuk memenuhi standar tertentu. Sebuah remaster membuat lagu yang sama menjadi lebih bersih, jernih, keras, dan seimbang tanpa mengubah pilihan musik aslinya. |
| Fokus | Remix adalah bentuk kreativitas. Fokusnya adalah memberikan identitas baru pada lagu tersebut. | Remastering meningkatkan kualitas suara. Fokusnya adalah pada kejernihan, keseimbangan, pengaturan EQ, dan kontrol volume tanpa mengubah identitas lagu. |
| Kedalaman Produksi | Pengerjaan produksi penuh. Mengolah ulang drum, harmoni, transisi, dan efek. Seringkali terasa seperti membuat lagu baru. | Hanya pekerjaan mastering ulang. Engineer membentuk frekuensi, mengurangi noise, dan mengatur rentang dinamis sehingga audio terasa lebih halus. |
| Alat yang Digunakan | Menggunakan stem, MIDI, sampel, instrumen virtual, dan sesi mixing lengkap. Membangun kembali lagu tersebut hampir dari awal. | Menggunakan File Master final. Menggunakan EQ, kompresi, limiting, kontrol noise, dan alat stereo untuk menyempurnakan audio. |
| Pengalaman Pendengar | Remix memberikan pengalaman baru. Ini dapat menarik pendengar baru yang menyukai gaya atau energi yang berbeda. | Remaster memberikan pengalaman yang lebih baik. Pendengar dapat mendengar lagu yang sama dengan kualitas suara yang lebih baik (meskipun tergantung selera masing-masing). |
| Tujuan Musikal | Kebebasan berkreasi. Musisi dapat menafsirkan ulang lagu tersebut agar sesuai dengan genre atau tujuan baru. | Pelestarian. Sebuah remaster menghormati ide asli sambil meningkatkan kualitas suara untuk platform baru. |
| Kondisi di Platform Digital | Platform seperti Spotify dan YouTube Music mencantumkan remix dalam rilis yang sama atau dalam single terpisah sehingga pendengar dapat memilih versi mana yang mereka sukai. | Lagu yang di-remaster sering menggantikan versi aslinya di platform streaming karena versi yang diperbarui memenuhi standar kualitas suara modern. Spotify, Apple Music, dan Amazon Music lebih menyukai file yang lebih bersih yang sesuai dengan aturan audio mereka. Inilah mengapa banyak album klasik banyak muncul dalam bentuk yang telah di-remaster. |
Kapan Melakukan Remix Lagu?
Perbedaan remix vs remaster lagu sebenarnya sangat jelas, seperti yang anda bisa baca juga di tabel di atas. Yang jadi pertanyaan, di kondisi seperti apa musisi memilih salah satu di antaranya?
Kita membahas remix terlebih dahulu. Seperti yang disebutkan dalam tabel, remix adalah proses kreatif baru. Jadi, benar-benar sesuai selera sang musisi.
Seperti yang kita banyak temui, kebanyka remix dilakukan DJ untuk pertunjukannya di lantai dansa. Tentu saja mereka harus izin ke pencipta atau pemilik lagu aslinya kalau mau melakukan remix.
Tapi sebetulnya tidak sebatas itu. Pencipta atau pemilik lagu sendiri bisa melakukan remix jika ingin memperluas pangsa pasar lagu tersebut.
Lagu yang tadinya slow bisa diubah menjadi hard rock bahkan metal untuk mendapatkan hati para penikmat musik cadas.
Alasan yang lebih personal seperti perubahan suasana hati atau kepribadian juga kadang-kadang memicu seorang musisi membuat remix pada lagunya.
Pada intinya, untuk menentukan kapan melakukan remix lagu tergantung musisi yang mau melakukannya. Karena ini kreativitas, tidak ada batasan.
Kapan Melakukan Remaster Lagu?
Kita bisa mengambil contoh pada fenomena yang banyak terjadi pada band-band legendaris seperti The Beatles dan The Smith.
Label yang menaungi band-band tersebut membuat album remaster dengan tujuan beradaptasi pada zaman modern.
Karena seperti kita ketahui, dua band yang hidup di tahun 60 sampai 80-an tersebut memiliki file rekaman analog. Berbeda dengan zaman sekarang yang serba digital.
Alasan yang lebih ekonomis juga bisa. Misalnya, lagu awal yang dirasa kurang meledak dilakukan remaster supaya lebih ramah telinga pendengar kebanyakan.
Tak jarang juga, banyak musisi yang melakukan remaster pada lagunya karena menemukan sebuah “kesalahan teknis” dalam proses mastering.
Kontroversi Remix dan Remaster Lagu
Baik remix maupun remaster, tidak terlepas dari kontroversi. Bagaimanapun, ini adalah proses dimana lagu dibuat versi berbeda. Baik hanya bersifat suasana ataupun benar-benar berubah.
Perbedaan ini yang terkadang membuat banyak penggemar lagu aslinya merasa keberatan. Dan hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja oleh musisi karena bisa berpotensi kehilangan fans loyal. Dan sudah pasti, berpotensi mengurangi pendapatan dari royalti lagu.
Remix yang dilakukan oleh musisi lain, dengan kata lain bukan pemilik lagu, disebut mengaburkan identitas dan nilai-nilai yang dibawa oleh lagu aslinya.
Sementara di kasus remaster, kita bisa mengambil contoh kembali dari yang dilakukan oleh dua band legendaris The Beatles dan The Smith.
Banyak penggemar dua band legendaries tersebut yang benar-benar mengikuti sebuah lagu dari awal perilisannya.
Artinya, mereka memahami bagaimana filosofi dan dinamika lagu tersebut dari awal hingga versi remaster keluar.
Meski tujuannya baik untuk menghasilkan lagu yang lebih jernih, banyak dari mereka yang menganggap bahwa proses tersebut malah menurunkan kualitas lagu aslinya.
Noise misalnya. Banyak fans yang menganggap justru hal tersebut menunjukkan sisi manusia sang musisi. Yang karenanya, bisa diterima oleh banyak orang. Noise yang terlalu banyak dihilangkan malah membuat lagu terdengar seperti dinyanyikan oleh robot.
Penggunaan Equalizer (EQ) pada versi remaster sebuah lagu juga dianggap justru menghasilkan musik yang melelahkan di telinga.
Dan tidak sedikit pula fans yang menyebut lagu remaster yang dirilis bahkan tidak ada perbedaannya sama sekali dengan lagu aslinya.
Pandangan Dimulti Music
Sebagai penyedia jasa remaster dan remix lagu, Dimulti Music menganggap dinamika tersebut wajar terjadi.
Yang terpenting, remix dan remaster yang dilakukan harus benar-benar berasal dari sebuah proses dengan visi yang jelas.
Dalam setiap sesi layanan jasa pembuatan lagu dan produksi musik, kami selalu mengajak musisi berdiskusi di awal sebelum benar-benar menekan tombol pertama.
Tujuannya agar kami memahami apa sebenarnya tujuan pembuatan lagu, remix atau remaster lagu tersebut. Dengan begitu, semua yang terlibat di dalamnya bekerja sesuai dengan visi lagu.
Kami juga akan menganalisa emosi dari sang musisi. Bagaimana ia menyampaikan visi, karakteristik suara, dan lain sebagainya. Menurut kami, ini yang membuat versi remix atau remaster lagu tidak akan kehilangan identitasnya.
Pada akhirnya, tujuan pembuatan lagu adalah untuk menemukan pendengarnya. Fans berhak menilai. Ada yang suka, dan banyak yang membenci.
Untuk para penikmat musik, silahkan dengarkan lagu apapun yang disuka karena setiap orang punya selera.
Untuk para musisi, cukup fokus pada visi pembuatan lagu supaya ketika dirilis dan sukses mencapai tujuan tersebut, tak perlu risau dengan dinamika lainnya.
Remix dan Remaster AI
Dinamika lain dalam proses remix dan remaster adalah mulai banyak bermunculan software atau aplikasi yang mengklaim bisa melakukan remix atau remaster lagu menggunakan AI.
Robot yang tertanam di software atau aplikasi tersebut dilatih menggunakan ribuan bahkan jutaan database tentang hasil dan teknis remix atau remaster.
Sekarang pilihannya ada di musisi itu sendiri. Jika mau menggunakan robot yang tidak memiliki rasa dalam bermusik, silahkan saja.
Tapi bagi Dimulti Music, sebuah lagu yang berkualitas melalui proses kreatif dan musikal mendalam melibatkan pikiran dan rasa dari semua orang yang terlibat.
Inilah mengapa lagu-lagu dari The Beatles dan The Smith selalu menemukan pendengar baru di setiap eranya. Karena lagu dibuat dengan rasa, pesan yang ingin disampaikan lagu tersebut akan terus mengalir di para pendengarnya.
Remix AI atau Remaster AI mungkin terdengar sangat rapi dan jernih. Namun, musisi bisa kehilangan jati diri bahkan tidak memahami apa tujuan robot tersebut membuat lagunya seperti itu.
Akibatnya ketika dirilis, orang juga tidak memahami pesan apa yang ingin disampaikan dari lagu yang diremix atau diremaster tersebut. Jangan kaget kalau lagu akhirnya lewat sekelebat saja.












