Panduan Sertifikasi DJID Perangkat WDM

M. Fakhri Adzhar

Sertifikasi Produk

Ilustrasi gelombang. Ini penjelasan sertifikasi DJID perangkat WDM.

Kemunculan kabel serat optic untuk transmisi data dalam jaringan meningkatkan hingga puluhan kali lipat dari kabel tradisional. Karena itu, sistem transmisi data jaringan seperti ini semakin banyak digunakan.

Lambat laun, teknologinya semakin ditingkatkan. Sekarang, anda bisa melakukan pengiriman banyak data dari banyak sumber dan tujuan berbeda hanya dengan satu jalur kabel serat optic.

Sebagai gambaran, apakah anda pernah terjebak macet karena ada galian di pinggir jalan? nah, galian tersebut salah satunya untuk membuat jalur kabel serat optic.

Sekarang bayangkan jika galian kabel tersebut hanya digunakan untuk jalur satu pengguna. Butuh berapa banyak dan panjang kabel serat optic yang dipakai? lebih dari itu, sampai kapan anda harus terus menerus terjebak macet gegara galian kabel?

Dan sudah pasti, sistem transmisi banyak data menggunakan satu jalur kabel optik sangat menguntungkan pebisnis karena biaya pembuatan infrastruktur bisa ditekan.

Sistem seperti ini dinamakan Wavelength Division Multiplexing atau WDM. Karena menggunakan gelombang cahaya (optic), perangkat yang membangun sistem ini perlu disertifikasi DJID.

Ini harus jadi perhatian para pelaku usaha. Tanpa sertifikasi DJID perangkat WDM, produk anda dikatakan ilegal dan berpotensi mendapatkan hukuman dan denda.

Apa Itu Wavelength Division Multiplexing?

Wavelength Division Multiplexing atau biasa disingkat WDM adalah serangkaian sistem untuk menggabungkan beberapa sinyal data melalui satu kabel fiber optic.

Mudahnya, sebuah kabel optik bisa jadi tempat untuk berbagai data yang ditransmisikan ke sumber yang berbeda. Dengan begitu, infrastruktur kabel optic yang terpasang di dalam tanah bisa digunakan untuk banyak pelanggan.

Mengapa Menggunakan Teknologi WDM?

Jika dibandingkan dengan kabel koaksial, koneksi jaringan menggunakan kabel serat optic jauh lebih cepat. Masalahnya, untuk membuat infrastruktur jaringannya, sangat mahal.

Bayangkan jika misalnya setiap klien pengguna layanan internet diberikan akses kabel serat optic masing-masing di setiap rumah. Butuh biaya berapa yang dikeluarkan penyedia layanan?

Lebih dari itu, berapa biaya berlangganan yang harus dikeluarkan oleh setiap pelanggan? menghitung biaya pembuatan infrastrukturnya, pasti sangat mahal.

Karena itu, sistem WDM ini digunakan. Penyedia layanan internet cukup menanam satu jalur kabel serat optic untuk mendukung banyak klien.

Meski semakin banyak klien butuh semakin banyak juga, setidaknya ini akan mengurangi biaya pemasangan infrastruktur secara signifikan.

Mengapa ini bisa terjadi? seperti dijelaskan, penggunaan sistem WDM memungkinkan transmisi banyak data dalam satu serat optic. Jadi, bahkan hingga puluhan pelanggan layanan internet bisa mendapatkan akses hanya dari satu jalur kabel serat optic.  

Perangkat WDM

Analoginya begini. Anda mau ke wilayah Jakarta Selatan. Anda masuk pintu tol bogor dan keluar di pintu tol Kemang.

Ada puluhan bahkan ratusan mobil yang masuk dan keluar dari pintu tol yang sama dalam jangka waktu yang sama dengan anda. Meski sebenarnya asal dan tujuannya berbeda dengan anda.

Pintu masuk tol, jalan tol itu sendiri dan pintu keluar tol adalah yang dimaksud dengan sistem WDM. Sementara untuk membentuk sistem tersebut, dibutuhkan perangkat masing-masing.

Jenis WDM terdiri dari Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) dan Coarse Wavelength Division Multiplexing (CWDM). Penjelasannya akan kami bahas di poin selanjutnya.

Namun secara umum, kedua jenis WDM tersebut dibangun dengan beberapa perangkat berikut ini:

1. Transponder

Ini adalah perangkat yang mengubah sinyal optic standar (multimode atau single mode) menjadi panjang gelombang tertentu (yang ditransmisikan dalam kabel serat optic).

Transponder dipasang di masing-masing ujung sistem WDM.

Transponder, menerima sinyal optic dari peralatan jaringan seperti switch atau router. Setelah itu, mengubahnya menjadi panjang gelombang tertentu. Begitupun sebaliknya.

2. Multiplexer (Mux) dan Demultiplexer (DeMux)

Karena sistem WDM bisa mentransmisikan banyak data, maka dibutuhkan perangkat yang bisa menggabungkan data-data tersebut agar bisa ditransmisikan dalam satu kabel optic. Alat tersebut bernama multiplexer.

Multiplexer akan menggabungkan berbagai panjang gelombang yang dihasilkan oleh transponder. Selanjutnya, ditransmisikan lewat kabel fiber optic.

Perangkat demultiplexer kemudian dipasang di ujung kabel lainnya. Fungsinya sebaliknya, yakni memisahkan kembali setiap panjang gelombang sesuai kebutuhan tiap klien.

Panjang gelombang sesuai kebutuhan klien tersebut kemudian diubah kembali menjadi sinyal optic spesifik oleh transponder dan ditransmisikan ke perangkat jaringan di sisi penerima.

3. Optical Amplifier

Biasanya digunakan untuk jenis DWDM. Fungsinya untuk memperkuat sinyal optic tanpa mengubahnya kembali menjadi sinyal listrik. Pemasangannya setelah transponder.

Dengan memasang optical amplifier, jarak transmisi data bisa dilakukan lebih jauh (karena umumnya transmisi data menggunakan sistem DWDM untuk jarak jauh).

4. Kabel Serat Optik

Seperti dijelaskan, kabel serat optik fungsinya sperti jalanan, tempat berbagai kendaraan lewat dengan tujuan yang berbeda-beda. Kalau tidak ada kabel serat optic, tidak akan ada sistem WDM.

Konfigurasi Sistem WDM

Untuk memudahkan anda memahami berbagai perangkat yang terpasang di sistem WDM, berikut ini kami berikan contoh konfigurasi infrastruktur sistem WDM:

Contoh konfigurasi sistem WDM.

Perbedaan CWDM dan DWDM

Sekarang mari kita bahas apa perbedaan jenis sistem DWDM dengan DWDM. Berikut ini beberapa poin inti perbedaan keduanya:

1. Rentang Panjang Gelombang dan Jarak Masing-Masing Gelombang

Perbedaan utama CWDM dan DWDM adalah spektrum frekuensi gelombang cahaya yang digunakan. CWDM beroperasi dalam rentang spektrum elektromagnetik 1270-1610 nanometer (nm). Biasanya, panjang gelombang dipisahkan sejauh 20 nm.

Sementara DWDM beroperasi pada pita C (1525 nm hingga 1565 nm) atau pita L (1570 nm hingga 1610 nm). Jarak antar panjang gelombang bervariasi, tetapi jauh lebih sempit daripada CWDM. Sekitar 0,4 nm.

2. Jumlah saluran

Karena jarak antar panjang gelombang DWDM jauh lebih berdekatan dibandingkan CWDM, DWDM dapat memuat lebih banyak saluran.

CWDM biasanya menggunakan delapan saluran. Namun, ada juga yang bisa mendukung hingga 18 saluran atau lebih.

Sementara sistem DWDM kebanyakan menyediakan hingga 88 saluran atau lebih, tergantung pada teknik multiplexing yang digunakan.

Dengan demikian, DWDM bisa memuat data jauh lebih banyak ketimbang CWDM. Karena itu, sistem DWDM biasanya digunakan untuk sistem pusat penyedia layanan yang memang membutuhkan banyak saluran.

Sementara sistem CWDM umumnya digunakan untuk kebutuhan wilayah tertentu. Meski kelihatannya kecil, masih cukup mumpuni digunakan sebagai sistem jaringan optik kota.

3. Jarak

DWDM dikatakan bahkan mampu mencapai ribuan kilometer untuk transmisi data. Sementara CWDM hanya berkisar 80 km.

Hal ini karena panjang gelombang DWDM berada dalam rentang C-band dan L-band. Rentang frekuensi ini cocok dengan amplifier sehingga gelombang bisa diamplifikasi atau diperkuat untuk kebutuhan jarak jauh.

Di sisi lain, CWDM menggunakan spektrum yang lebih luas dan tidak efisien pada jarak jauh karena memiliki atenuasi (redaman serat) yang tinggi.

Perangkat WDM yang Wajib Sertifikasi DJID

Pengujian produk perangkat adalah salah satu langkah yang dilakukan dalam sertifikasi DJID pernagkat WDM. Tujuannya untuk memastikan perangkat tersebut sesuai dengan regulasi di Indonesia. Bisa dibilang, ini adalah langkah utama dalam proses sertifikasi.

Pengujian peran mengacu pada standar teknis. Standar teknis sendiri biasanya dibuat berdasarkan teknologi telekomunikasi yang digunakan.

Untuk WDM, acuan standar teknisnya adalah Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika (Kepmen Kominfo) Nomor 6 Tahun 2023.

Dalam standar teknis tersebut, perangkat dalam sistem WDM yang harus disertifikasi adalah transponder, multiplexer/demultiplexer, serta optical amplifier (untuk sistem DWDM). 

Persyaratan Umum Sertifikasi DJID Perangkat WDM

Persyaratan dalam pengujian perangkat WDM sesuai standar teknis dibagi menjadi dua, yakni persyaratan umum dan Interoperabilitas Antarmuka.

Pada persyaratan umum, perangkat WDM harus memenuhi kriteria sebagai berikut:

1. Persyaratan Catu Daya

Pada perangkat yang menggunakan sumber listrik (biasanya transponder dan amplifier), boleh menggunakan catu daya AC atau DC.

Perangkat harus beroperasi normal dengan catuan 220 V ± 10 % dan frekuensi 50 Hz ± 6 %. Jika menggunakan catuan eksternal (adaptor), perangkat tersebut tidak boleh mempengaruhi kinerja WDM.

2. Persyaratan EMC

Persyaratan EMC yang dibutuhkan perangkat WDM adalah pengujian emisi. Pengujian ini dibagi menjadi dua area: residensial dan non-residensial. Sementara jenis pengujiannya adalah emisi konduksi dan radiasi. 

Area Residensial

Emisi radiasi perangkat WDM yang dipasang di area residensial harus memenuhi persyaratan kelas B yang ditentukan pada Tabel A.4 dan A.5, sesuai klausul 4 SNI CISPR 32.

Sementara pesyaratan emisi konduksi perangkat WDM yang dipasang di area residensial tertera dalam tabel di bawah ini:

Lokasi PengujianPersyaratan
Port Daya DCPersyaratan Kelas B, Tabel A.10 klausul 4 SNI CISPR 32
Port Daya AC
Port Jaringan KabelPersyaratan Kelas B, Tabel A.12 klausul 4 SNI CISPR 32

Area Non-Residensial

Emisi radiasi perangkat WDM yang dipasang di area non-residensial harus memenuhi persyaratan kelas A yang ditentukan pada Tabel A.2 dan A.2, sesuai klausul 4 SNI CISPR 32.

Sementara pesyaratan emisi konduksi perangkat WDM yang dipasang di area non-residensial tertera dalam tabel di bawah ini:

Lokasi PengujianPersyaratan
Port Daya DCPersyaratan Kelas A, Tabel A.9 klausul 4 SNI CISPR 32
Port Daya AC
Port Jaringan KabelPersyaratan Kelas A, Tabel A.11 klausul 4 SNI CISPR 32

3. Keselamatan Listrik

Penilaian keselamatan listrik perangkat WDM harus memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam IEC 60950-1 atau IEC 62368-1.

4. Keselamatan Laser

Jika perangkat WDM memiliki antarmuka (interface) optic, laser yang digunakan pada transponder dan multiplexer/demultiplexer harus memenuhi persyaratan Class 1 atau Class 1M dalam IEC 60825-1.

Sementara antarmuka optic pada amplifier, harus memenuhi tabel Class 1 atau Class 1 M dalam dalam IEC 60825-2. 

Tabel class 1 dan Class 1M bisa anda lihat di artikel kami tentang Pengujian Laser Safety dalam Sertifikasi DJID.

Persyaratan Interoperabilitas Antarmuka

Ini adalah jenis persyaratan (pengujian) yang melihat kemampuan berbagai perangkat untuk saling terhubung. Dalam sistem WDM, berarti kemampuan berbagai perangkat yang kami sebutkan untuk saling terhubung.

Dalam persyaratan Interoperabilitas Antarmuka ini, dilakukan pengujian berdasarkan masing-masing perangkat. Masing-masing perangkat memiliki persyaratannya sendiri. Berikut penjelasannya:

1. Transponder

Transponder WDM harus memiliki antarmuka Tributary dan optical line dengan ketentuan sebagai berikut:

Antarmuka Tributary

Antarmuka Tributary perangkat transponder WDM harus menggunakan slaah satu atau lebih jenis protokol sebagai berikut:

  • STM-16 dengan karakteristik sesuai ITU-T Rec. G.957
  • STM-64 dengan karakteristik sesuai ITU-T Rec. G.691
  • Ethernet dengan karakteristik sesuai IEEE 802.3 atau yang relevan

Antarmuka Optical Line

Antarmuka optical line pada transponden disesuaikan dengan jenis sistem WDM yang digunakan (CWDM atau DWDM).

Pada antarmuka optical line sistem CWDM, harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

  • Karakteristik antarmuka sesuai ITU-T Rec. G.695
  • Nominal Central Wavelenght sesuai dengan ITU-T Rec. G.694.2

Sementara pada antarmuka optical line sistem DWDM, harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:

  • Karakteristik antarmuka sesuai ITU-T Rec. G.698.1 atau ITU-T Rec. G.698.2
  • Nominal Central Wavelenght sesuai dengan ITU-T Rec. G.694.1

2. Multiplexer/Demultiplexer

Multiplexer/Demultiplexer perangkat WDM harus sesuai dengan standar ITU-T Rec. G.695 untuk CWDM dan ITU-T Rec. G.698.2 untuk DWDM.

3. Optical Amplifier

Optical amplifier perangkat WDM harus sesuai dengan standar ITU-T Rec. G.691 untuk CWDM (jika menggunakannya) dan ITU-T Rec. G.692 untuk DWDM.

Popular Post

Ilustrasi hasil audit pengecualian. Ini penjelasan tentang surat pengecualian SNI produk elektronik yang perlu diketahui.

Panduan Lengkap Pengurusan Surat Pengecualian SNI Produk Elektronik

M. Fakhri Adzhar

Produk elektronik terkadang tidak memerlukan sertifikasi SNI. Namun, harus disertai surat pengecualian SNI produk elektronik agar bisa diperjualbelikan.

Ilustrasi komunikasi yang dilakukan oleh banyak orang. Ini daftar produk wajib sertifikasi DJID.

[Update] Daftar Produk Wajib Sertifikasi DJID POSTEL

M. Fakhri Adzhar

Komdigi mengeluarkan peraturan tentang daftar produk wajib sertifikasi DJID. Ini daftar lengkapnya.

Handy talkie jadi salah satu alat yang wajib sertifikasi produk radio frekuensi.

Sertifikasi Produk Radio Frekuensi (Wireless, Bluetooth, RFID, Dll)

M. Fakhri Adzhar

Dunia jadi semakin cepat. Semua data dan informasi bisa berpindah hanya dengan sekali tempel. Bahkan, tanpa bersentuhan sama sekali. Semua ...

Ilustrasi impor. Ini semua tentang sianti yang perlu diketahui.

SIANTI: Sistem Pemantauan Impor Produk Telekomunikasi yang Wajib Dipahami Pemilik Sertifikat DJID

M. Fakhri Adzhar

DJID menggunakan aplikasi yang diberi nama SIANTI untuk melakukan pemantauan produk bersertifikat saat diimpor.

Ilustrasi melakukan pencarian secara online. Begini cara cek sertifikasi DJID POSTEL.

Cara Cek Sertifikasi DJID POSTEL: Panduan Lengkap dan Mudah

M. Fakhri Adzhar

Cara cek sertifikasi DJID POSTEL bisa dilakukan dengan sangat mudah. Anda bisa melakukannya sendiri di rumah. Ini caranya.

Ilustrasi laporan yang dibukukan. Memahami apa itu LHU dalam sertifikasi DJID.

Apa Itu LHU dalam Proses Sertifikasi DJID?

M. Fakhri Adzhar

Apa itu LHU? Dokumen ini wajib dilampirkan ketika mengajukan permohonan sertifikasi DJID.

Leave a Comment