Apa Itu Frekuensi Gelombang Radio (Radio Frequency – RF)?
Kalau anda masih ingat ketika masa sekolah dulu (entah Sekolah Dasar atau Sekolah Menengah), dalam salah satu Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) kita pernah bereksperimen membuat telepon dari dua kaleng bekas yang dihubungkan oleh benang.
Dulu mungkin kita tidak paham apa maksudnya. Namun, lambat laun jika direnungi kembali padahal ini merupakan praktik mata pelajaran yang bahkan kita lakukan setiap hari.
Dari praktik tersebut kita bisa mengetahui bahwa suara membutuhkan medium untuk merambat hingga akhirnya bisa didengar oleh orang lain.
Dari praktik pelajaran tersebut medianya apa? Ya, benang. Lantas kalau kita bandingkan dengan yang kita praktikan sehari-hari, suara bisa didengar tanpa harus melalui media seperti benang, bukan?
Lalu, bagaimana bisa suara itu merambat dan bisa didengar oleh orang lain? Jawabannya adalah karena ia merambat di udara bebas.
Dengan kata lain, udara bebas yang tidak bisa kita lihat ini sebetulnya adalah sebuah media yang bisa digunakan data fisik seperti suara untuk merambat.
Sajarah Perkembangan Udara Bebas Jadi Media Komunikasi
Bahkan ratusan tahun yang lalu, para ilmuwan sudah meneliti hal ini. Penemuan telegraf listrik, telepon, dan alat komunikasi lainnya adalah bukti dari fenomena ini.
Dari hal sederhana mengobrol tadi, para ilmuwan menyadari bahwa sebenarnya suara perlu media untuk merambat. Tapi, kan, tidak ada benda fisik yang terlihat sebagai medianya?
Dari situlah diteliti udara bebas ini. Seiring berkembangnya ilmu penelitian tersebut, diketahui bahwa memang udara bebas ini bukanlah ruang hampa udara. Di dalamnya terdapat spektrum yang bisa digunakan untuk mentransmisikan data fisik seperti suara.
Dari penemuan telepon listrik, berlanjut hingga ke penelitian bagaimana memanfaatkan spektrum gelombang yang ada di udara ini untuk berkomunikasi.
Ditemukanlah bahwa sebenarnya dalam udara bebas ini, ada banyak spektrum lagi. Inilah mengapa selain suara, benda-benda fisik lain seperti cahaya juga bisa merambat disini.
Salah satu spektrum tersebut adalah gelombang radio. Di dalamnya terdapat frekuensi gelombang radio yang bisa dimanfaatkan untuk mengirimkan data atau informasi dengan teknologi spesifik.
Data atau informasi yang dikirimkan melalui frekuensi gelombang radio ini kita kenal dengan data digital. Tapi sebelum jadi data digital, data-data tersebut tetap berbentuk fisik seperti foto atau video. Jadi di artikel dan video ini, kita akan membahasnya.
Apa Itu Frekuensi Gelombang Radio?
Gelombang radio merupakan salah satu bentuk Sumber Daya Alam (SDA). Kelebihannya dibanding SDA lain, gelombang radio bisa ditemukan di semua tempat yang ada di dunia.
Karena itu, pemanfaatan gelombang radio untuk berbagai hal termasuk media berkomunikasi sebenarnya bisa dilakukan di semua tempat yang ada di dunia.
Tapi kalau bicara lebih lanjut, sebenarnya proses pengiriman data atau informasi fisik lewat gelombang radio ini tidak sesederhana itu.
Kita perlu membahasnya dari pengertiannya terlebih dahulu. Dalam frekuensi gelombang radio, sebenarnya ada dua terminologi disini: frekuensi dan gelombang radio.
1. Gelombang Radio
Gelombang radio adalah spektrum atau radiasi elektromagnetik (sistem yang berhubungan dengan medan magnet dan listrik), yang merambat di udara yang memiliki frekuensi antara 3 Hz hingga 300 GHz.
Hertz yang digunakan sebagai nama satuan ini (Hz) dikenal sebagai ilmuwan yang menemukan sistem elektromagnetik, salah satunya gelombang radio ini.
Dalam penjelasan penemuannya, Hertz mengemukakan bahwa interaksi antara medan listrik dan magnet di udara itu membentuk sebuah lintasan menyerupai gelombang (naik-turun). Itulah kenapa disebut “gelombang” radio.
Jika dilihat dari definisi di atas, mungkin kita akan bertanya: kalau definisi gelombang radio dibatasi dari rentang frekuensi, berarti ada jenis gelombang lainnya yang merambat di udara?
Ya, benar sekali.
Dalam sistem elektromagnetik, radiasi elektromagnetik di udara bebas ini terdiri dari beberapa jenis gelombang.
Selain radio, ada juga gelombang cahaya, sinar gamma, sinar X, gelombang mikro dan lainnya. Dan semuanya, bisa digunakan sebagai tempat transmisi data dengan karakteristik masing-masing.
2. Frekuensi
Lalu, apa maksudnya frekuensi? Jika kita mencari dari berbagai sumber, diketahui bahwa frekuensi adalah jumlah gelombang yang dihasilkan dalam satu detik. Satuannya tadi, Hz.
Jadi, jika merujuk dari definisi di atas, kita bisa ketahui bahwa gelombang radio adalah jenis radio elektromagnetik yang menghasilkan 3 hingga 300 milyar gelombang dalam satu detik.
Bagaimana Proses Transmisi Data Terjadi?
Lalu, bagaimana data fisik berupa video atau foto dalam alat atau perangkat komunikasi (lebih tepatnya alat/perangkat telekomunikasi) bisa ditransmisikan dalam frekuensi gelombang radio?
Yang pertama, karena ini berupa data fisik, harus diubah terlebih dahulu supaya bisa match dengan media transmisinya.
Dalam produk telekomunikasi, ada satu part dalam sistemnya yang dinamakan modulator. Fungsinya untuk mengubah data fisik tadi supaya bisa ditransmisikan lewat gelombang radio. Data yang sudah diubah ini dikenal dengan data digital.
Data kemudian ditransmisikan lewat frekuensi gelombang radio sesuai teknologinya (kita akan bahas di poin selanjutnya).
Frekuensi kerja ini memiliki banyak gelombang. Misalnya frekuensi 2,4 GHz. Berarti dalam satu detik terbentuk 2,4 miliar gelombang.
Nah, ada beberapa titik gelombang dimana terjadi radiasi paling besar. Disinilah tempat data tersebut ditransmisikan kemudian ditangkap oleh perangkat atau alat lain. Lokasi ini disebut juga dengan kanal atau channel.
Setelah itu, perangkat yang menerima data ini kemudian akan mengubah lagi data digital tersebut menjadi data fisik dan agar bisa dialirkan lewat sistem listrik di dalamnya dan diolah supaya bisa dipahami manusia sebagai penggunanya.
Part dalam perangkat yang mengubah data digital menjadi data fisik tersebut dikenal dengan nama demodulator. Biasanya, modulator dan demodulator adalah satu part yang sama dan bisa berfungsi keduanya.
Spektrum Frekuensi dalam Gelombang Radio
Kita sekarang mengetahui bahwa rentang frekuensi gelombang radio itu sangat besar. Sementara dalam setiap bagian rentang itu punya karakteristik masing-masing.
Misalnya, semakin besar frekuensi biasanya kecepatan transmisi datanya makin cepat. Namun, dia tidak bisa menembus penghalang seperti tembok. Namun pada frekuensi kecil, sebaliknya.
Karena itu, International Telecommunication Union atau ITU sebagai lembaga dunia yang mengurus standarisasi penggunaan gelombang elektromagnetik untuk produk telekomunikasi membagi spektrum gelombang radio lagi.
Pembagian spektrum berupa nama dan rentangnya masing-masing serta penggunaannya untuk transmisi data bisa anda saksikan dalam video kami.
Teknologi yang Memanfaatkan Gelombang Radio
Dari pembagian ini, kemudian pelaku industri bisa mengklasifikasikan rentang frekuensi mana saja yang bisa dimanfaatkan fitur dalam produknya sesuai peruntukkan.
Meski dalam sejarahnya, jenis teknologi yang memanfaatkan gelombang radio ini ditemukan duluan, namun pembagian spektrum di atas mempermudah industri untuk melakukan improvement terhadap teknologi yang dibuatnya.
Karena hal ini, kita sebagai pengguna saat ini mengenal berbagai teknologi nirkabel seperti Bluetooth, WiFi, jaringan seluler, NFC, RFID dan sebagainya.
Masing-masing tersebut merupakan jenis teknologi yang memanfaatkan frekuensi gelombang radio untuk transmisi data.
Namun, setiap teknologi tersebut punya frekuensi kerjanya masing-masing.
Misalnya, seluler, Bluetooth dan WiFi menggunakan frekuensi 2,4 GHz. Kemudian NFC dan RFID menggunakan frekuensi 13,56 MHz. Dan lain sebagainya.
Dalam proses Sertifikasi DJID, penggunaan semua teknologi ini ada aturannya. Produk yang menggunakan gelombang radio harus lulus pengujian dengan persyaratan teknis yang sudah ditentukan untuk masing-masing teknologi.
Selain itu, pemohon sertifikasi juga harus mendeklarasikan bahwa benar produk yang mau mereka edarkan di Indonesia itu memenuhi ketentuan tersebut. Hal ini tertuang dalam deklarasi kesesuaian.
Jadi tujuan sertifikasi DJID untuk memastikan keamanan pengguna dan menghindari konflik sistem elektromagnetik antar produk bisa terpenuhi.



