Apa Itu Teknologi Bluetooth?
Siapa yang tak tau fitur Bluetooth? Atau lebih jauh lagi, siapa yang tidak pernah menggunakannya? Rasa-rasanya, semua pemilik smartphone (bahkan yang sudah jadul sekalipun) pasti tau dan pernah menggunakannya.
Sekarang kami tanya, apa yang anda rasakan ketika menggunakannya? Biasa saja? Ya, jelas. Karena teknologi Bluetooth saat ini sudah sangat umum. Bahkan “agak sedikit” terkikis dengan semakin canggihnya internet.
Namun, coba anda bayangkan ketika dahulu semua koneksi harus menggunakan kabel. Sekedar mengirimkan foto berukuran 1 mb saja harus pakai kabel yang panjang.
Apa masalahnya kabel? Cepat rusak (apalagi kalau kualitasnya jelek), ribet, dan bikin berantakan.
Teknologi Bluetooth kemudian hadir untuk mengatasi masalah pengiriman data atau informasi sederhana ini. Ingat, ya, sederhana.
Karena sejak awal, tujuan pembuatannya adalah untuk menghubungkan perangkat yang berdekatan. Bukan yang terpisah pulau, negara ataupun benua.
Meski jaraknya pendek, tetap terasa manfaatnya, bukan?
Di sini, kami tidak akan hanya membahas lebih teknis terkait teknologi Bluetooth ini. Namun juga fakta bahwa tetap ada potensi atau resiko bahaya buat penggunanya.
Karena hal ini, produk yang punya fitur Bluetooth ini perlu diatur dan diawasi peredarannya, terutama di Indonesia.
Apa Itu Teknologi Bluetooth?
Sederhananya, ini adalah teknologi untuk pengiriman data/informasi antar alat/perangkat tanpa menggunakan kabel, alias nirkabel atau wireless.
Kalau menggunakan kabel, data atau informasinya dialirkan lewat kabel tersebut. Kalau nirkabel khususnya Bluetooth, apa medianya?
Jawabannya adalah frekuensi dari gelombang radio yang merambat di udara bebas. Ya, udara yang setiap hari kita hirup ini menyimpan kecanggihan bahkan hingga bisa melakukan transfer data tersebut!
Jika dibedah lebih dalam, frekuensi gelombang radio di udara ini punya rentang yang sangat lebar. Sementara Bluetooth, memanfaatkan frekuensi antara 2400 – 2483,5 MHz atau sekitar 2,4 GHz.
Di dalam rentang frekuensi tersebut, terdapat 79 saluran atau channel tempat data atau informasi itu ditransmisikan. Sementara bandwidthnya sebesar 1 MHz.
Untuk proses transmisi data, teknologi Bluetooth menggunakan metode Time Division Duplex atau TDD. Yakni proses mengirim dan menerima datanya dilakukan pada pita frekuensi yang sama.
Karena pengembangan Bluetooth ini memang dimaksudkan untuk kebutuhan transmisi data jarak pendek, Bluetooth bisa beroperasi optimal pada dua alat atau perangkat yang berjarak 10 sampai 100 meter.
Spesifikasi Bluetooth
Special Interest Group atau SIG merupakan badan internasional yang mengeluarkan standar operasional Bluetooth. Soal ini, kami akan jelasakan di poin selanjutnya.
SIG sendiri sudah mengeluarkan spesifikasi operasional untuk teknologi Bluetooth yang bisa dilihat dalam gambar di bawah ini:

Sejarah Perkembangannya
Teknologi Bluetooth pertama kali dikembangkan oleh insinyur asal Belanda bernama Jaap Hartsen lewat perusahaan asal Swedia, Ericsson di tahun 1989.
Lewat penemuannya, banyak perusahaan, insinyur, dan ilmuwan yang coba mengembangkan teknologi ini. Dan banyak yang berhasil.
Karena masifnya perkembangan, beberapa perusahaan besar dunia (termasuk Ericsson) berinisiatif membuat sebuah organisasi internasional yang fokus mengembangkan teknologi Bluetooth ini.
Di tahun 1998, terbentuklah Special Interest Group atau SIG. Fokus utama mereka adalah mengembangkan teknologi Bluetooth agar semua alat atau perangkat bisa terhubung satu sama lain. Tidak perlu memikirkan modul yang berbeda.
Setelah berhasil, SIG pun membuat standar untuk operasional teknologi ini. Standar pertama yang dikeluarkan adalah Bluetooth 1.0.
SIG tersebut terus diperbaharui dari masa ke masa. Standar terbaru yang mereka keluarkan adalah Bluetooth 6.0.
Hingga saat ini, standar Bluetooth yang dikeluarkan SIG ini menjadi acuan dunia industri internasional yang mau mengembangkan teknologi Bluetooth.
Jenis Bluetooth
Sebenarnya, tidak ada kategori secara resmi dari teknologi Bluetooth ini. Yang ada hanyalah perkembangannya yang membuatnya semakin canggih.
Namun, banyak pengamat teknologi yang membagi jenis Bluetooth ini menjadi dua: Bluetooth klasik dan Low Energy.
Dari pembagian tersebut, kita bisa mengetahui bahwa perbedaan utamanya adalah pada daya yang digunakan kedua jenis tersebut.
Bluetooth konvensional memang punya daya yang besar dan cenderung membuat perangkat boros. Namun kecepatan transmisinya cukup tinggi serta mampu menghandle data yang besar.
Sementara Bluetooth low energy sebaliknya. Tak hanya itu, banyak sumber yang menyebut jenis Bluetooth ini punya jangkauan jarak lebih jauh.
Sementara pemanfaatan keduanya tergantung kebutuhan. Bluetooth klasik cocok untuk transmisi data besar seperti streaming, menghubungkan TWS dengan ponsel, sistem handsfree mobil dan sebagainya.
Sementara Bluetooth low energy umumnya digunakan untuk keperluan transmisi data rendah. Jadi, tidak harus pakai daya tinggi kalau akhirnya tidak ada manfaatnya. Aplikasinya bisa untuk pelacak kebugaran di smartwatch, sensor, dan lain sebagainya.
Sebagai informasi tambahan, pembagian dua jenis Bluetooth ini awalnya karena kemunculan Standar Bluetooth 4.0 di tahun 2009.
Standar tersebut mengkhususkan penggunaan Bluetooth daya rendah untuk kebutuhan industri perawatan kesehatan, kebugaran, beacon, keamanan, dan hiburan rumah.
Punya Potensi Masalah, Wajib Sertifikasi DJID
Seperti dijelaskan, Bluetooth memanfaatkan frekuensi gelombang radio untuk beroperasi. Gelombang radio ini punya radiasi yang bisa terserap oleh tubuh dan menimbulkan gangguan.
Meski begitu, Bluetooth punya radiasi yang kecil jadi tidak cukup hingga menimbulkan masalah kesehatan yang fatal.
Tapi, radiasi ini juga bisa mengganggu kinerja produk lain yang punya fitur teknologi yang sama-sama memanfaatkan gelombang radio untuk beroperasi.
Disinilah alasan kenapa produk dengan fitur Bluetooth harus disertifikasi dulu jika ingin diedarkan di Indonesia.
Sertifikasi ini punya nama resmi Sertifikasi Alat Telekomunikasi dan/atau Perangkat Telekomunikasi. Dikenal juga dengan Sertifikasi DJID.
Jika lulus proses ini, produk akan mendapatkan Sertifikat DJID. Di Indonesia, ini adalah contoh bentuk perizinan berusaha atau PB UMKU sektor perdagangan produk telekomunikasi.
Dalam proses ini, produk akan diuji dengan berbagai pengujian yakni Electrical Safety, EMC, dan pengujian kinerja frekuensi radio yang digunakan Bluetooth pada produk tersebut.
Semua pengujian ini ada parameter dan persyaratan yang wajib dipenuhi. Lebih lengkap soal sertifikasi DJID, anda bisa membaca berbagai artikel yang sudah kami terbitkan di website ini.



